Judul : Rabi'ah Al-Adawiyah
link : Rabi'ah Al-Adawiyah
Rabi'ah Al-Adawiyah
Rabi'ah Al-Adawiyah
Mengenal Allah dengan Cinta
Suatu
ketika, Rabiah al-Adawiyah makan bersama dengan keluarganya. Sebelum
menyantap hidangan makanan yang tersedia, Rabi’ah memandang ayahnya
seraya berkata, “Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal.
Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.”
Ayah dan ibunya terperanjat mendengar kata-kata Rabi’ah. Makanan yang
sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia pandang Rabi’ah dengan
pancaran sinar mata yang lembut, penuh kasih. Sambil tersenyum, si ayah
lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika tidak ada lagi yang
bisa kita peroleh kecuali barang yang haram?” Rabi’ah menjawab: “Biar
saja kita menahan lapar di dunia, ini lebih baik daripada kita
menahannya kelak di akhirat dalam api neraka.” Ayahnya tentu saja sangat
heran mendengar jawaban Rabi’ah, karena jawaban seperti itu hanya
didengarnya di majelis-majelis yang dihadiri oleh para sufi atau
orang-orang saleh. Tidak terpikir oleh ayahnya, bahwa Rabi’ah yang masih
muda itu telah memperlihatkan kematangan pikiran dan memiliki akhlak
yang tinggi (Abdul Mu’in Qandil).
Penggalan
kisah di atas sebenarnya hanya sebagian saja dari kemuliaan akhlak
Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya
telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang
sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai
kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah sufi
pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah
jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh
jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan
ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir
di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin
Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya,
terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.
Sepanjang
sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan
Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep
dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari
sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak
lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh
para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah)
bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya
mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya
merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu
(syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Rabi’ah
telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah. Untuk
menjelaskan bagaimana Cinta Rabi’ah kepada Allah, tampaknya agak sulit
untuk didefinisikan dengan kata-kata. Dengan kata lain, Cinta Ilahi
bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti, baik melalui kata-kata
maupun simbol-simbol. Para sufi sendiri berbeda-beda pendapat untuk
mendefinisikan Cinta Ilahi ini. Sebab, pendefinisian Cinta Ilahi lebih
didasarkan kepada perbedaan pengalaman spiritual yang dialami oleh para
sufi dalam menempuh perjalanan ruhaninya kepada Sang Khalik. Cinta
Rabi’ah adalah Cinta spiritual (Cinta qudus), bukan Cinta al-hubb
al-hawa (cinta nafsu) atau Cinta yang lain. Ibnu Qayyim al-Jauziyah
(691-751 H) membagi Cinta menjadi empat bagian.
Pertama,
mencintai Allah. Dengan mencintai Allah seseorang belum tentu selamat
dari azab Allah, atau mendapatkan pahala-Nya, karena orang-orang
musyrik, penyembah salib, Yahudi, dan lain-lain juga mencintai Allah.
Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Cinta inilah yang dapat menggolongkan orang yang telah masuk Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Manusia yang paling Cintai adalah yang paling kuat dengan cinta ini.
Ketiga, Cinta untuk Allah dan kepada Allah. Cinta ini termasuk perkembangan dari mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
Keempat, Cinta bersama Allah. Cinta jenis ini syirik. Setiap orang mencintai sesuatu bersama Allah dan bukan untuk Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan sesuatu selain Allah. Inilah cinta orang-orang musyrik.
Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Cinta inilah yang dapat menggolongkan orang yang telah masuk Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. Manusia yang paling Cintai adalah yang paling kuat dengan cinta ini.
Ketiga, Cinta untuk Allah dan kepada Allah. Cinta ini termasuk perkembangan dari mencintai apa-apa yang dicintai Allah.
Keempat, Cinta bersama Allah. Cinta jenis ini syirik. Setiap orang mencintai sesuatu bersama Allah dan bukan untuk Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan sesuatu selain Allah. Inilah cinta orang-orang musyrik.
Pokok
ibadah, menurut Ibnu Qayyim, adalah Cinta kepada Allah, bahkan
mengkhususkan hanya Cinta kepada Allah semata. Jadi, hendaklah semua
Cinta itu hanya kepada Allah, tidak mencintai yang lain bersamaan
mencintai-Nya. Ia mencintai sesuatu itu hanyalah karena Allah dan berada
di jalan Allah.
Cinta
sejati adalah bilamana seluruh dirimu akan kau serahkan untukmu Kekasih
(Allah), hingga tidak tersisa sama sekali untukmu (lantaran seluruhnya
sudah engkau berikan kepada Allah) dan hendaklah engkau cemburu
(ghirah), bila ada orang yang mencintai Kekasihmu melebihi Cintamu
kepada-Nya. Sebuah sya’ir mengatakan:
Aku cemburu kepada-Nya,
Karena aku Cinta kepada-Nya,
Setelah itu aku teringat akan kadar Cintaku,
Akhirnya aku dapat mengendalikan cemburuku
Karena aku Cinta kepada-Nya,
Setelah itu aku teringat akan kadar Cintaku,
Akhirnya aku dapat mengendalikan cemburuku
Oleh
karena itu, setiap Cinta yang bukan karena Allah adalah bathil. Dan
setiap amalan yang tidak dimaksudkan karena Allah adalah bathil pula.
Maka dunia itu terkutuk dan apa yang ada di dalamnya juga terkutuk,
kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya
Rabi’ah
adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya
menamakan Rabi’ah, yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan
anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya
berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk
memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah
bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba
kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras
keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu
masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban
penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila
kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan
berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya.
Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun
keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah
Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang
meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia
sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah.
Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk
memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah
seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Rabi’ah
memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir
Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir
sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah,
antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at
az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya
Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367
M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun
Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w.
1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).
Dari
sekian banyak penulis biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Awliya’ karya
Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai buku biografi yang paling
mendekati kehidupan Rabi’ah, terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan
lahir di tengah keluarga yang sangat miskin itu (tapi ada yang
menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya termasuk keturunan
bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smith dalam bukunya
Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah disertasi,
terbitan Cambridge University Press, London, 1928), antara lain banyak
mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
Diceritakan,
sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnya sama sekali tidak
ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasuk kain pembungkus
untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta
sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun,
karena suaminya terlanjur berjanji untuk tidak meminta bantuan pada
sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan
tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang
baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad
Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang
baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan
dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan
surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa
ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at
sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan
sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus
dinar.”
Ayah
Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat
dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada
pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu,
ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu
sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk
memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya
bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya.
Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang
kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya
dengan janggutku.”
Aththar
juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah.
Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia.
Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus
bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah
dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus
menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Suatu
hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan
seorang laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik
Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada
seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar
diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa
mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang
datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu
mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset.
Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya Allah, aku adalah
seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang
budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak
bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku
ingin sekali mengetahui apakah Engkau Ridla terhadapku atau tidak.”
Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih,
sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan
orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga.”
Setelah
itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah
puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam
menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang
hari.
Pada
suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela
kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya
Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui
keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika
persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan
henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah.
Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala Rabi’ah masih
khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang
tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang
mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya
“sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat
Tuhan) dari seorang Muslimah suci.
Melihat
peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu
saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat
tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama
setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik
seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan
meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Dalam
pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah
menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani
seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum
lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati di tengah
jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah dan mereka
menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barang miliknya.
Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan tak ingin meminta
bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan
Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.
Orang-orang
itu pun memahami keinginan Rabi’ah, sehingga mereka meneruskan
perjalanannya. Rabi’ah terdiam dan kemudian menundukkan kepalanya sambil
berdoa, “Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukan dengan seorang
perempuan asing dan lemah ini? Engkau-lah yang memanggilku ke rumah-Mu
(Ka’bah), tetapi di tengah jalan Engkau mengambil keledaiku dan
membiarkan aku seorang diri di tengah padang pasir ini.”
Setelah
asyik bermunajat, di depan Rabi’ah tampak keledai yang semula mati itu
pun hidup kembali. Rabi’ah tentu saja gembira karena bisa meneruskan
perjalannya ke Mekkah.
Dalam
cerita yang berbeda disebutkan, saat Rabi’ah berada di tengah padang
pasir, ia berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku. Hatiku ini merasa bingung
sekali, ke mana aku harus pergi? Aku hanyalah debu di atas bumi ini dan
rumah itu (Ka’bah) hanyalah sebuah batu bagiku. Tampakkanlah wajah-Mu di
tempat yang mulia ini.” Bgeitu ia berdoa sehingga muncul suara Allah
dan langsung masuk ke dalam hatinya tanpa ada jarak, “Wahai Rabi’ah,
ketika Musa ingin sekali melihat wajah-Ku, Aku hancurkan Gunung Sinai
dan terpecah menjadi empat puluh potong. Tetaplah berada di situ dengan
Nama-Ku.”
Diceritakan
pula, saat Rabi’ah dalam perjalanannya ke Mekkah, tiba-tiba di tengah
ia melihat Ka’bah datang menghampiri dirinya. Rabi’ah lalu berkata,
“Tuhanlah yang aku rindukan, apakah artinya rumah ini bagiku? Aku ingin
sekali bertemu dengan-Nya yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang mendekati
Aku dengan jarak sehasta, maka Aku akan berada sedekat urat nadinya.’
Ka’bah yang aku lihat ini tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap
diriku, kegembiraan apa yang aku dapatkan apabila Ka’bah yang indah ini
dihadapkan pada diriku?” Singkat cerita, sekembalinya Rabi’ah dari
menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia kemudian menetap di Basrah dan
mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah seraya
melakukan perbuatan-perbuatan mulia.
Sebagaimana
yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ah al-Adawiyah, wanita suci ini
sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurut
Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk
melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan
keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk
mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul
Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog
dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah.
Suatu
ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi
lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual,
carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau
melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”
Laki-laki
lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin
Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w. 172 H).
Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu
sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga
memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki pendapatan
sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, ”Aku
sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua
milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari
Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”
Dalam
kisah lain disebutkan, ada laki-laki sahabat Rabi’ah bernama Hasan
al-Bashri yang juga berniat sama untuk menikahi Rabi’ah. Bahkan para
sahabat sufi lain di kota itu mendesak Rabi’ah untuk menikah dengan
sesama sufi pula. Karena desakan itu, Rabi’ah lalu mengatakan, “Baiklah,
aku akan menikah dengan seseorang yang paling pintar di antara kalian.”
Mereka mengatakan Hasan al-Bashri lah orangnya.” Rabi’ah kemudian
mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Jika engkau dapat menjawab empat
pertanyaanku, aku pun akan bersedia menjadi istrimu.” Hasan al-Bashri
berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab
pertanyaanmu.”
“Pertanyaan
pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia
ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?”
Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.”
“Pertanyaan
kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan
Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya
Allah Yang Maha Mengetahui.”
“Pertanyaan
ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari
Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal
di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku
menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab,
“Hanya Allah Yang Maha Tahu.”
“Pertanyaan
terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk
surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan
berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya
Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu.
Selanjutnya,
Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat
pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya
aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula,
Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.
Begitulah,
meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergoda sedikit pun oleh
berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih
Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan
sesama manusia. Meskipun demikian, disebutkan bahwa Rabi’ah memiliki
sejumlah sahabat pria, dan sangat sedikit sekali ia bersahabat dengan
kaum perempuan. Di antara sahabat-sahabat Rabi’ah yang cukup dekat
misalnya Dzun Nun al-Mishri, seorang sufi Mesir yang memperkenalkan
ajaran doktrin ma’rifat. Sufi ini meninggal pada tahun 856 M dan sempat
bersahabat dengan Rabi’ah selama kurang lebih setengah abad. Bahkan ada
yang menyebutkan bahwa pertemuan antara Dzun Nun al-Mishri dengan
Rabi’ah ini terjadi sejak awal-awal usianya.
Di
kalangan para sahabat sufi-nya itu, Rabi’ah banyak sekali berdiskusi
dan berbincang tentang Kebenaran, baik siang maupun malam. Salah seorang
sahabat Rabi’ah, Hasan al-Bashri, misalnya menceritakan: “Aku lewati
malam dan siang hari bersama-sama dengan Rabi’ah, berdiskusi tentang
Jalan dan Kebenaran, dan tak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku
adalah seorang laki-laki dan begitu juga Rabi’ah, tak pernah ada dalam
pikirannya bahwa ia seorang perempuan, dan akhirnya aku menengok dalam
diriku sendiri, baru kusadari bahwa diriku tak memiliki apa-apa, yaitu
secara spiritual aku tidak berharga, Rabi’ah-lah yang sesungguhnya
sejati.
Dalam
kisah lain, diceritakan bahwa pada suatu hari Rabi’ah melewati lorong
rumah Hasan al-Bashri. Hasan melihatnya melalui jendela dan menangis,
hingga air matanya jatuh menetes mengenai jubah Rabi’ah. Ia menengadah
ke atas, dan berpikir bahwa hari tidaklah hujan, dan ketika ia menyadari
bahwa itu air mata sahabatnya, lalu dihampirinya sahabat yang sedang
menangis tersebut seraya berkata, “Wahai guruku, air itu hanyalah air
mata kesombongan diri saja dan bukan akibat dari melihat ke dalam
hatimu, di mana dalam hatimu air itu akan membentuk sungai yang di
dalamnya tidak akan engkau dapati lagi hatimu, kecuali ia telah bersama
dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.” Setelah mendengar kata-kata Rabi’ah itu,
Hasan tampak hanya bisa berdiam diri.
Di
kalangan para sahabatnya, kehidupan Rabi’ah dirasakan banyak memberi
manfaat. Hal ini dikarenakan Rabi’ah banyak sekali memperhatikan
kehidupan mereka. Perhatian Rabi’ah yang cukup besar kepada para
sahabatnya itu, misalnya saja dibuktikan dengan kisah sebagai berikut:
Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang meminta agar Rabi’ah mendoakan
untuk dirinya. Tapi permohonan itu dibalas oleh Rabi’ah dengan rasa
rendah hati, “Wahai, siapakah diriku ini? Turutlah perintah Allah dan
berdoalah kepada-Nya, sebab Dia akan menjawab semua doa bila engkau
memohonnya.”
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah
Sebagaimana
diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang
tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana
dan sangat besar hati-hatinya terhadap makanan apapun yang masuk ke
dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap
bantuan yang datang dari para sahabatnya, tetapi sebaliknya Rabi’ah
malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya. Selepas dirinya dari
perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana
di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi
dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.
Tampaknya,
keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia
jalankan secara konsisten. Pernah misalnya Al-Jahiz, seorang sufi
generasi tua, menceritakan bahwa beberapa dari sahabatnya mengatakan
kepada Rabi’ah, “Andaikan kita mengatakan kepada salah seorang
keluargamu, pasti mereka akan memberimu seorang budak, yang akan
melayani kebutuhanmu di rumah ini.” Tetapi ia menjawab, “Sungguh, aku
sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini,
bagaimana aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini?”
Tiba-tiba terdengar suara mengatakan:
“Jika
engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan Aku
berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam kalbumu, sebab Aku tak
mungkin berada di dalam kalbu yang memiliki dunia ini. Wahai Rabi’ah,
Aku mempunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin
menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu kalbu.”
Rabi’ah
kemudian mengatakan, “Ketika mendengar peringatan itu, kutanggalkan
hati ini dari dunia dan kuputuskan harapan duniawiku selama tiga puluh
tahun. Aku salat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari
aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan
menarikku dari diri-Nya, maka akau katakana, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati
ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku
dari-Mu.”
Sebagai
seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar
dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan
zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di
depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi.
Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak
mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata. Meskipun demikian,
Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang
selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr),
namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah
kepada Rabi’ah.
Dalam
satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu
waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas tikar tua dan
lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan
seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman
yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada
mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah
Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malik menjawab, “Ya, memang
sama.” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang
miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya
yang kaya dikarenakan kekayaannya?” Malik menyahut, “Tidak.” Rabi’ah
lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku
harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus
menerimanya.”
Sikap
zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lain agar ia hanya
lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya. Karena itu, hidup
dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih
dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran
adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh
keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah,
adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu,
Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlah engkau
pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada
pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”
Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah
Cinta
Ilahi (al-Hubb al-Ilah) dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai
tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufi tak
ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau antara mahabbah dan ma’rifat
merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu
Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu
timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan
tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan
apa pun.
Apa
yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda
jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut)
dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada
Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk
surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah
bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia
mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena
Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai
berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.
Cinta
Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga
hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu
ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia
menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta
membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.”
Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.”
Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.”
Allah
adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah
pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah
dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan
Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalam salah satu
sya’ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi’ah kepada Teman dan
Kekasihnya itu:
Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.
Menurut
kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam
mahabbah dan ma’rifat. Namun begitu, sebelum sampai ke tahapan maqam
tersebut, Rabi’ah terlebih dahulu melampaui tahapan-tahapan lain, antara
lain tobat, sabar dan syukur. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring
dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta
Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab
penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya
memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia
pun Cinta kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai
mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. 5: 59).
Dalam
kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat
kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap mencintai
Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.
Cinta
bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan
segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan
tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untuk menuju
Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan
jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan
kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanya
kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan
kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga
di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap
Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya
Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam ini atau itu.
Abu
Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di atas mengatakan, dalam
Cinta rindu itu, Rabi’ah telah melihat Allah dan mencintai-Nya dengan
merenungi esensi kepastian, dan tidak melalui cerita orang lain. Ia
telah mendapat kepastian (jaminan) berupa rahmat dan kebaikan Allah
kepadanya. Cintanya telah menyatu melalui hubungan pribadi, dan ia telah
berada dekat sekali dengan-Nya dan terbang meninggalkan dunia ini serta
menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya, menanggalkan duniawi kecuali
hanya kepada-Nya. Sebelumnya ia masih memiliki nafsu keduniawian, tetapi
setelah menatap Allah, ia tanggalkan nafsu-nafsu tersebut dan Dia
menjadi keseluruhan di dalam hatinya dan Dia satu-satunya yang ia
cintai. Allah telah memebaskan hatinya dari keinginan duniawi, kecuali
hanya diri-Nya, dan dengan ini meskipun ia masih belum pantas memiliki
Cinta itu dan masih belum sesuai untuk dianggap menatap Allah pada
akhirnya, hijab tersingkap sudah dan ia berada di tempat yang mulia.
Cintanya kepada Allah tidak memerlukan balasan dari-Nya, meskipun ia
merasa harus mencintai-Nya.
Al-Makki
melanjutkan, bagi Allah, sudah selayaknya Dia menampakkan rahmat-Nya di
muka bumi ini karena doa-doa Rabi’ah (yaitu pada saat ia melintasi
Jalan itu) dan rahmat Allah itu akan tampak juga di akhirat nanti (yaitu
pada saat Tujuan akhir itu telah dicapainya dan ia akan melihat wajah
Allah tanpa ada hijab, berhadap-hadapan). Tak ada lagi pujian yang layak
bagi-Nya di sini atau di sana nanti, sebab Allah sendiri yang telah
membawanya di antara dua tingkatan itu (dunia dan akhirat) (Abu Thalib
al-Makki, Qut al-Qulub, 1310 H, dalam Margaret Smith, 1928).
Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan,
Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan
selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya,
hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani
pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama
yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di
dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit
pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada
Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Berbagai
kisah menjelang kematian Rabi’ah menyebutkan, di antaranya pada masa
menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orang alim duduk
mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka: ‘Bangkit dan
keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!’
Maka semua orang pun bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup
pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan kalimat syahadat,
setelah itu terdengar sebuah suara: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah
kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama
golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89:
27-30).
Setelah
itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saat mereka kembali masuk
ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah meninggalkan alam
fana. Para dokter yang berdiri di hadapannya lalu menyuruh agar jasad
Rabi’ah segera dimandikan, dikafani, disalatkan, dan kemudian
dibaringkan di tempat yang abadi.
Kematian
Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya,
bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan
menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah,
karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun
tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan
mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.
Karenanya,
setelah kematian Rabi’ah, seseorang lalu pernah memimpikanya. Dia
mengatakan kepada Rabi’ah, “Ceritakanlah bagaimana keadaanmu di sana dan
bagaimana engkau dapat lolos dari Munkar dan Nakir?” Rabi’ah menjawab,
“Mereka datang menghampiriku dan bertanya, “Siapakah Tuhanmu?’ Aku
katakana, “Kembalilah dan katakan kepada Tuhanmu, ribuan dan ribuan
sudah ciptaan-Mu, Engkau tentunya tidak akan lupa pada perempuan tua
lemah ini. Aku, yang hanya memiliki-Mu di dunia, tidak pernah
melupakan-Mu. Sekarang, mengapa Engkau harus bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’”
Kini
Rabi’ah telah tiada. Perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk
selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih di sisi-Nya.
Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinya terbang bersama
para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi.
Perindu Cinta Allah
Rabi’ah
binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam
sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah
berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang
miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah.
Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai
Dijlah dengan menggunakan sampan.
Pada
akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam
pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan
telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai
berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat
tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin
diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’
serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
Namun
begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak
terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu
gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan
al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka
menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi
segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai
hamba yang benar-benar taat.
Bapa
Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada
kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia
mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih.
Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata.
Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi
al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi
Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi
serta keimanan yang mendalam.
Menjelang
kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin
buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak
terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada
riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat.
Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam
di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat.
Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong
hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap
kepada belas ihsan Tuhannya.
Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
“Ya
Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala
yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala
pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
“Tuhanku!
bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua
pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
“Tuhanku!
Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang
bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang
menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin
yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati
semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang
menyamai-Mu.
“Sekelian
manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik
maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di
hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang
akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”
Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:
“Tuhanku!
Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada
keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam
dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah
Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak
yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap
sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi
lagi Maha Perkasa.”
Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
“Wahai
Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai
malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku
berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan
takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau
menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika
Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak
bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”
Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:
“Perkahwinan
itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada
mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah
perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”
Rabi’ah
seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia
terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan
lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan
akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata.
Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa
membelek-beleknya setiap hari.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:
“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku
tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di
dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada
penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah
ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Rabi’ah
telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah.
Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk
membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan
menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:
“Wahai
Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu
dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”
Kecintaan Rabi’ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.
“Jika
aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku
di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu
maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana
kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah
aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Begitulah
keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan
keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135
Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah
meredainya.
Demikianlah Artikel Rabi'ah Al-Adawiyah
Sekianlah artikel Rabi'ah Al-Adawiyah kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Rabi'ah Al-Adawiyah dengan alamat link https://arafikalhafidz.blogspot.com/2014/11/rabiah-al-adawiyah.html

No comments:
Post a Comment