Judul : Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
link : Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
Suatu
ketika saat berkelana beliau berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah
aku bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur?” Kemudian terdengarlah suara,
“Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya
kamu saja” Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal
Engkau sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?” Kemudian
terdengar suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat
petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana
caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu
semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.
ِِSyadziliyah
adalah nama suatu desa di benua Afrika yang merupakan nisbat nama
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau pernah bermukim di Iskandar
sekitar tahun 656 H. Beliau wafat dalam perjalanan haji dan dimakamkan
di padang Idzaab Mesir. Sebuah padang pasir yang tadinya airnya asin
menjadi tawar sebab keramat Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau
belajar ilmu thariqah dan hakikat setelah matang dalam ilmu fiqihnya.
Bahkan beliau tak pernah terkalahkan setiap berdebat dengan ulama-ulama
ahli fiqih pada masa itu. Dalam mempelajari ilmu hakikat, beliau
berguru kepada wali quthub yang agung dan masyhur yaitu Syekh Abdus
Salam Ibnu Masyisy, dan akhirnya beliau yang meneruskan quthbiyahnya
dan menjadi Imam Al-Auliya’. Peninggalan ampuh sampai sekarang yang
sering diamalkan oleh umat Islam adalah Hizb Nashr dan Hizb Bahr, di
samping Thariqah Syadziliyah yang banyak sekali pengikutnya. Hizb Bahr
merupakan Hizb yang diterima langsung dari Rasulullah saw. yang
dibacakan langsung satu persatu hurufnya oleh beliau saw. Syekh Abul
Hasan Asy-Syadzili r.a. pernah ber-riadhah selama 80 hari tidak makan,
dengan disertai dzikir dan membaca shalawat yang tidak pernah berhenti.
Pada saat itu beliau merasa tujuannya untuk wushul (sampai) kepada
Allah swt. telah tercapai. Kemudian datanglah seorang perempuan yang
keluar dari gua dengan wajah yang sangat menawan dan bercahaya. Dia
menghampiri beliau dan berkata, ”Sunguh sangat sial, lapar selama 80
hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan aku sudah enam bulan lamanya
belum pernah merasakan makanan sedikitpun”. Suatu ketika saat
berkelana, beliau berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah aku bisa
menjadi hamba-Mu yang bersyukur?”. Kemudian terdengarlah suara, “Kalau
kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu
saja”. Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau
sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?”. Kemudian
terdengarlah suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat
petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana
caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu
semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”. Beliau
pernah khalwat (menyendiri) dalam sebuah gua agar bisa wushul (sampai)
kepada Allah swt. Lalu beliau berkata dalam hatinya, bahwa besok
hatinya akan terbuka. Kemudian seorang waliyullah mendatangi beliau dan
berkata, “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan
terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan
karena Allah (hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali)”. Setelah itu
beliau sadar dan faham dari mana datangnya orang tadi. Segera saja
beliau bertaubat dan minta ampun kepada Allah swt. Tidak lama kemudian
hati Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. sudah di buka oleh Allah swt.
Demikian di antara bidayah (permulaaan) Syekh Abul Hasan As-Syadzili.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi
gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan
tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima
dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab
r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari
langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh
yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan
muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata
memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak
terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian
apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu
Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya
Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta
kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja
permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan
aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah
membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja
kepada Allah swty. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan,
seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw.
Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak
terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada
Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”. Pada
suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir
yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili
berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata,
“Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang
zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan
lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh
Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti
itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian
itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku
ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap
aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan
yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah,
memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta
ampun kepada Allah dan bertaubat”.
Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili:
1.
Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang
dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi
kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya.
2.
Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga : pertama, karena
berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar.
Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah swt.
sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik
kembali oleh Allah swt. Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena
dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu
yang membikin Allah swt. untuk mengujimu.
Kalau
Allah swt. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka
tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah
awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama
akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa
menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling dari dunia dan
bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat
(kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak
bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang
tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu
tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan
nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan
untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak
merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah
(fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri
dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Kamu
jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu
tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa
menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu
itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu
yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik
kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt.
membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa
anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.
(Al-Mihrab).
Bapak, Bagaimana Keadaanmu
Saat itu Syech
Hasan sedang duduk-duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ada jenazah
seorang laki-laki melintas di depan rumahnya menuju ke tempat
pemakaman. Terlihat olehnya di belakang jenazah seorang anak wanita
bersama para pelayat yang lain. Rambut wanita itu tergerai dan tidak
henti-hentinya menangis. Jelas nampak dalam raut wajahnya rasa duka
yang sangat mendalam.
Syech
Hasan berfikir bahwa mungkin anak wanita itu adalah Putri dari jenazah
tadi. Segera saja Syech Hasan membuntuti iring-iringan jenazah
tersebut dan mendekati anak wanita yang dari tadi menangis. Tatkala
sudah dekat dengan anak wanita itu, Syech Hasan mendengar dengan jelas
rintihannya. “Wahai bapak, belum pernah selama hidupku mengalami
perasaan sedih dan duka yang sangat mendalam seperti yang aku alami
sekarang ini. Aku benar-benar merasa kehilangan bapak.” “Nak, belum
pernah juga bapakmu mengalami kejadian yang menyusahkan seperti sekarang
ini!” sahut Syekh Hasan.
Setelah
tiba di sebuah mushalla, jenazah itu pun segera disholati dan kemudian
dimakamkan. Derai tangis anak wanita tadi belum juga reda sampai acara
pemakaman. Setelah acara pemakaman selesai para pengantar pun segera
kembali ke rumahnya masing-masing.
Esok
harinya, setelah menjalankan shalat subuh Syeikh Hasan kembali
duduk-duduk santai di depan rumahnya. Namun selang beberapa lama
kemudian, ia melihat anak wanita dengan jalan yang tergesa-gesa
melintasi depan rumahnya. Rupanya, ia adalah anak wanita yang kemarin
ditinggal mati oleh bapaknya. Anak wanita ini rupa-rupanya berjalan
menuju tempat pemakaman. Merasa ada gelagat yang kurang baik, segera
Syech Hasan mengikutinya dari kejauhan. Beliau ingin tahu apa sebenarnya
yang ingin dikerjakan anak itu. Saat anak wanita itu memasuki makam,
Syeikh Hasan mengintip dari tempat yang tersembunyi.
Tiba-tiba
anak wanita itu memeluk nisan dan pipinya yang basah dengan air mata
ditaruh diatas gundukan makam ayahnya, seraya berkata, “Wahai bapak,
bagaimana tadi malam engkau menginap? Kemarin lusa aku masih
mempersiapkan alas tidur untukmu. Lalu siapakah yang mempersiapkan alas
tidurmu tadi malam? Kemarin lusa aku masih mempersiapkan lampu untuk
menerangimu. Lalu siapakah gerangan yang mempersiapkan lampu untuk
menerangimu tadi malam? Wahai bapak, ketika badanmu terasa pegal-pegal,
seringkali aku memijat badanmu. Lalu siapa lagi sekarang yang akan
memijat-mijatmu?” “Wahai Bapak,” rintihnya lebih lanjut, “Ketika engkau
merasa haus, dengan segera aku mengambilkan minuman untukmu. Namun
siapakah yang mengambilkan engkau minum tadi malam? Ketika engkau merasa
jemu dan penat tidur terlentang, maka segara aku balikkan engkau agar
nyaman. Namun siapakah tadi malam yang mau membalik tubuhmu agar
nyaman?” “Dengan perasaan belas kasih, kemarin aku masih memandangi
wajahmu. Tapi sekarang siapa lagi yang akan memandangi wajahmu seperti
itu? Saat engkau memerlukan sesuatu, engkau segera memanggilku. Tapi
bagaimana dengan malam tadi, siapakah yang engkau panggil? Bahkan
kemarin lusa, aku masih memasakkan makanan untukmu. Tapi masihkah engkau
juga menginginkannya dan siapa yang akan menyiapkan makanan untukmu?”
Air
mata Syech Hasan tak sanggup lagi dibendungnya saat mendengar rintihan
anak wanita itu. Air matanya berderai dengan derasnya berjatuhan satu
persatu ke pipinya. Ia langsung menampakkan diri dari tempat
persembunyiannya. “Janganlah engkau mengucapkan kata-kata seperti itu,
Nak!” hibur Syech Hasan sambil mengusap rambut wanita kecil itu. “Namun
katakanlah, “Wahai bapak, kemarin kami masih menghadapkan wajahmu ke
arah kiblat. Lalu masihkah kini wajahmu menghadap ke kiblat ataukah
telah berpaling darinya? Wahai bapak, saat kami menaruhkanmu di kubur,
tubuhmu masih tampak utuh. Tapi masihkah sekarang keadaanmu seperti itu
ataukah sudah habis dimakan ulat?” “Ucapkan pula, Nak! Para ulama telah
mengatakan bahwa seseorang yang sudah mati itu pasti akan ditanyai
tentang keimanannya. Di antara mereka ada bisa menjawab dengan benar
tapi ada juga yang tidak bisa menjawabnya sama sekali. Adakah bapak
termasuk di antara mereka yang bisa menjawabnya?” “Mereka juga
menjelaskan bahwa sebagian jenazah itu ada yang dijepit oleh liang
kuburnya sendiri hingga tulang rusuknya hancur berantakan, tapi
adakalanya pula yang merasa liang kuburnya tersebut sangat luas sekali.
Lalu bagaimana dengan keadaan kubur bapak sekarang ini?” “Begitu juga
ada keterangan yang menyebutkan bahwa kubur itu acapkali diganti dengan
taman-taman surga, tapi adakalanya pula yang diubah menjadi jurang
neraka. Lalu bagaimana dengan kubur bapak sekarang? Demikian pula ada
yang menerangkan bahwa sebagian kafan itu kelak akan digantikan dengan
kafan surga dan adakalanya pula yang diganti dari kafan neraka. Lantas
dengan apakah kafan bapak digantikan?” “Keterangan lain yang dikatakan
oleh para ulama adalah bahwa kubur itu acapkali memeluk penghuninya
sebagimana seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
Tapi adakalanya pula yang mendapatkan marah dari kuburnya hingga
menjepit sampai tulang belulangnya berserakan. Adakah kubur bapak
sekarang marah ataukah sebaliknya memeluk bapak dengan kasih sayang?”
“Demikian juga bahwa para ulama telah menjelaskan, ketika seseorang
telah memasuki kuburnya, maka bila dia sebagai orang yang bertakwa, ia
akan menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa. Begitu juga
dengan orang yang durhaka. Mereka akan menyesal karena semasa hidupnya
tidak mau berbuat kebajikan. Lantas apakah bapak tergolong mereka yang
menyesal karena tidak pernah berbuat kebajikan ataukah mereka yang
menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa?” “Wahai bapak,
cukup lama aku memanggilmu! Tapi mengapa engkau tidak menjawab sedikit
pun panggilanku. Ya Allah, janganlah kiranya Engkau menghalangi
pertemuanku kelak di akhirat dengannya!”
Usai
Syech Hasan mengajari seperti itu, anak kecil tersebut menolehkan
kepalanya seraya berkata, “Kalimat-kalimat yang engkau ajarkan itu
sungguh menyejukkan hatiku. Sehingga hatiku sekarang merasa lebih
tentram dan memalingkan aku dari kelalaian.” Melihat anak wanita itu
sudah tenang hatinya, segera saja Syech Hasan mengantarnya pulang.
Demikianlah, mudah-mudahan dari kisah ini ada hikmah dan pelajaran
berharga yang bisa kita renungkan bersama. Tidaklah perkara dunia yang
harus kita tanyakan atau kita pikirkan pada orang yang ada di dalam
kubur, namun perkara aheratlah yang harus kita tanyakan atau kita
pikirkan pada orang yang sudah berada di alam kubur.
Karomah Sulthonul auliya shaikh Abu Hasan Asy Syadzili
Sulthonul
Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra adalah seorang yang
dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung
karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara
lain adalah :
- Allah SWt menganugerahkan kepada beliau kunci seluruh Asma-Asma, sehingga seandainya seluruh manusia dan jin menjadi penulis beliau (untuk menulis ilmu-ilmu beliau) mereka akan lelah dan letih, sedangkan ilmu beliau belum habis.
- Beliau adalah sangat terpuji akhlaqnya, sifat mudah menolong dan kedermawanannya dari sejak usia anak-anak sampai ketika umur enam tahun telah mengenyangkan orang-orang yang kelaparan pada penduduk Negara Tunisia dengan uang yang berasal dari alam ghoib (uang pemberian Allah secara langsung kepada beliau.
- Beliau didatangi Nabiyulloh Khidir as untuk menetapkan “wilayatul adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang mempunyai kedudukan tinggi) ketika beliau baru berusia enam tahun.
- Beliau bisa mengetahui batin isi hati manusia
- Beliau pernah berbicara dengan malaikat dihadapan murid-muridnya
- Beliau menjaga murid-muridnya meskipun di tempat yang jauh
- Beliau mampu memperlihatkan/menampakkan ka’bah dari negara Mesir
- Beliau tidak pernah putus melihat/menjumpai Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya beliau. Sehingga beliau berkata : Apabila Awal Puasa ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 29, Awal Puasa pada hari Senin Lailatul Qodarnya malam 21, Awal puasa pada hari Selasa Lailatul Qodarnya malam 27, Awal puasa pada hari Rabu Lailatul Qodarnya malam 19, awal puasa pada hari Kamis Lailatul Qodarnya malam 25, awal puasa pada hari jum’at maka Lailatul Qodarnya pada malam 17, sedangkan bila awal puasa pada hari Sabtu maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 23.
- Barang siapa yang meninggal dan dikubur sama dengan hari meninggal dan dikuburkannya beliau, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya
- Doa Beliau Mustajabah (dikabulkan oleh Allah SWT)
- Beliau tidak pernah terhalang sekejap mata pandangannya dari Rasulullah saw selama 40 tahun (artinya beliau selalu berjumpa dengan Rasulullah selama 40 tahun)
- Beliau dibukakan (oleh Allah) bisa melihat lembaran buku murid-murid yang masuk kedalam thoriqohnya, padahal lebar bukunya tersebut berukuran sejauh mata memandang. Hal ini berlaku bagi orang yang langsung baiat kepada beliau dan juga bagi orang sesudah masa beliau sampai dengan akhir zaman. Dan seluruh murid-muridnya (pengikut thoriqohnya) diberi karunia bebas dari neraka. Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra sungguh telah digembirakan diberi karunia, barang siapa yang melihat beliau dengan rasa cinta dan rasa hormat tidak akan mendapatkan celaka.
- Beliau menjadi sebab keselamatan murid-muridnya/pengikutnya (akan memberikan syafaat di akhirat)
- Beliau berdo’a kepada Allah SWT, agar menjadikan tiap-tiap wali Qutub sesudah beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan thoriqohnya. Dan Allah telah mengabulkan Do’a beliau tersebut. Maka dari itu wali Qutub sesudah masa beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan pengikut beliau.
- Syaikh Abul Abbas Al Mursi ra berkata : “Apabila Allah SWT menurunkan bala/bencana yang bersifat umum maka pengikut thoriqoh syadziliyah akan selamat dari bencana tersebut sebab karomah syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra".
- Syaikh Syamsudin Al-Hanafi ra mengatakan bahwa pengikut thoriqoh
syadziliyah dikaruniai kemulyaan tiga macam yang tidak diberikan pada
golongan thoriqoh yang lainnya :
a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz
b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah. - Apabila beliau mengasuh/mengajar murid-muridnya sebentar saja, sudah akan terbuka hijab.
- Rasulullah saw memberikan izin bagi orang yang berdo’a Kepada Allah SWT dengan bertawasul kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili.
Demikianlah Artikel Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.
Sekianlah artikel Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Perjalanan Sufi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. dengan alamat link https://arafikalhafidz.blogspot.com/2014/11/perjalanan-sufi-syekh-abul-hasan-asy.html

No comments:
Post a Comment